Tuesday


Bagian I : TIPS PERSEDIAAN DIRI

1. Luruskan niat Anda

“Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama¬sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar (QS. 4 : 146).
Hal yang pertama harus dilakukan sebelum Anda melakukan berbagai tips Pendidik sukses adalah meluruskan niat. Niat merupakan pangkal diterimanya amal. Percuma Anda beramal kalau niat tidak ikhlas. Luruskan niat Anda dalam membina semata¬mata karena Allah SWT (ikhlas). Semata¬mata karena perintah Allah SWT. Allah memerintahkan Anda untuk menjadi Pendidik dan Pendidik.


“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah (berdakwah), mengerjakan amal yang saleh dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (QS. 41:33).
Lakukan pembinaan (memegang halaqah) karena mengharap ridha Allah SWT. Tepis jauh-jauh niat selain ikhlas, seperti niat ingin populer, ingin mendapatkan pengikut, ingin mengisi waktu luang, ingin mendapatkan ilmu, ingin dipuji oleh orang lain, apalagi ingin mendapatkan uang! Istighfarlah kepada Allah jika timbul percikan niat ke arah itu.
Bagaimana jika niat kita belum ikhlas, misalnya membina karena disuruh Pendidik atau jama’ah? Apakah kita harus menghentikan amal? Jika niat belum ikhlas, lakukan terus pembinaan sambil Anda berusaha meluruskan niat. Jangan berhenti beramal gara¬gara merasa niat tidak ikhlas. Hal itu merupakan godaan syetan. Berbuatlah terus sambil terus istghfar, dan berdoalah kepada Allah agar ia membantu Anda mengikhlaskan niat.

2. Jangan lupa mempersiapkan bahan

“Pendidik harus memiliki hujah yang kuat untuk mendukung makna yang diutarakan dan harus memperhatikan kesesuaian hujah dengan makna tersebut. Ia memiliki keluasan dalam memilih hujah, sebab ayar¬ayat Al Qur’an, hadits-hadits Rasul, sirah Nabawiyah yang harum, dan sejarah Islam adalah hujah yang kuat yang dapat digunakan untuk memperkuat pembicaraan” (Musthafa Masyhur).
Salah satu kebiasaan buruk Pendidik yang sering dijumpai adalah tidak mempersiapkan bahan. Mereka tampil spontan. Mungkin merasa pelajar sudah thiqah (percaya) dengan mereka, sehingga tidak bakalan hengkang. Padahal Shakespeare pernah mengingatkan, “Barangsiapa naik panggung tanpa persiapan, ia akan turun panggung dengan kehinaan”. Hasilnya, pelajar mungkin tidak hengkang. Tapi penyajian bahan terasa hambar, bosan/jemu dan tidak aktual, karena tidak dipersiapkan sebelumnya. Akhirnya, pelajar lama kelamaan merasa bosan dan merasa tidak bertambah wawasannya. Pelajar jadi suka absen, atau paling tidak hadir tanpa semangat yang tinggi.
Karena itu, persiapkanlah bahan yang akan Anda sampaikan di halaqah. Persiapkan walau hanya sebentar (10-15 minit). Idealnya, persiapan yang perlu Anda lakukan minimal 60 minit, agar Anda dapat mempersiapkan bahan lebih komprehensif. Siapkan dalil naqli (dalil dari Al Qur’an dan Hadits) dan aqli (dalil secara rasional), data dan fakta terbaru, ilustrasi dan perumpamaan, contoh-contoh kes, bahan humor, pertanyaan yang mungkin diajukan, bahasa non verbal yang perlu dilakukan, kaedah belajar yang cocok dan media belajar yang diperlukan.
Dengan persiapan prima, niscaya Anda akan tampil di halaqah bagaikan aktor kawakan yang mampu menyedot perhatian penonton (pelajar).

3. Catat apa yang akan Anda bicarakan dengan pelajar

“Dan hendaklah ia rapi dalam segala urusannya” (Musthafa Masyhur).
Selain mempersiapkan bahan, hal yang perlu Anda persiapkan sebelum mengisi halaqah adalah mencatat apa yang akan Anda bicarakan dengan pelajar. Misalnya, mencatat apa saja yang akan dievaluasi, apa saja informasi dan instruksi yang akan disampaikan, atau siapa yang akan Anda ajak bicara tentang sesuatu hal.
Dengan mencacat, Anda akan ingat apa yang akan Anda bicarakan dengan pelajar. Tapi jika mengandalkan ingatan, Anda akan lupa karena saking banyaknya hal yang perlu Anda sampaikan kepada pelajar. Kelupaan tersebut dapat berakibat fatal, jika yang akan Anda bicarakan adalah hal yang penting dan mendesak. Anda mungkin terpaksa membicarakannya di luar halaqah via telefon. Hasilnya, tentu tidak seefektif jika Anda sampaikan secara tatap muda di depan halaqah. Nah.. agar tidak lupa, catat apa yang akan Anda sampaikan kepada pelajar di buku atau di kertas Anda sebelum Anda mengisi halaqah.

4. Persiapkan fizikal Anda

Sesungguhnya badanmu memiliki hak atas dirimu (HR. Bukhari dan Muslim).
Apa hubungannya fisik dengan Pendidik? Persiapan fisik bukan berarti Anda sebagai Pendidik harus gagah dan kekar seperti Ade Rai (seorang binaragawan) atau lemah gemulai seperti Cleopatra (ratu cantik dari Mesir Kuno). Tapi yang dimaksud persiapan fisik disini adalah seorang Pendidik harus sehat dan segar, terutama menjelang mengisi halaqah. Jika tampang Anda lesu dan lelah saat mengisi halaqah, hal itu dapat berdampak pada suasana halaqah yang lesu seperti tampang Anda.
Kelelahan sebelum mengisi halaqah juga dapat berdampak pada munculnya rasa malas dan jenuh. Misalnya, sebelum mengisi halaqah Anda sudah terlalu letih dengan berbagai aktiviti, sehingga ketika mau halaqah tinggal capenya doang. Akhirnya, Anda jadi malas mengisi halaqah. Kemudian membuat seribu satu alasan untuk membenarkan ketidakhadiran Anda dalam halaqah. Hal ini, jika dibiasakan, tidak akan sehat bagi perkembangan halaqah Anda.
Karena itu, hindari kondisi fisik yang terlalu lelah dan letih sebelum mengisi halaqah. Caranya, dengan istirahat yang cukup (jika perlu tidur dulu). Hindari aktiviti yang terlalu padat dan melelahkan sebelum mengisi halaqah. Kalau perlu, pindahkan sebagian aktiviti Anda ke hari lain agar waktu Anda lebih luang sebelum mengisi halaqah.
Selain itu, agar jangan sering absen karena sakit, Anda perlu berolahraga secara teratur, juga istirahat yang cukup dan makan makanan bergizi.

5. Tingkatkan keyakinan diri Anda

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman” (QS. 3 : 139).

Persiapan bahan dan persiapan fisik tak akan banyak berarti jika Anda minder ketika mengisi halaqah. Semua yang akan Anda sampaikan jadi buyar. Rencana Anda jadi berantakan. Memang, kepercayaan diri yang tinggi amat penting ketika kita ingin berbicara di depan banyak orang. Bahkan kepercayaan diri yang tinggi dapat menutupi kekurangan kita (seperti tidak siap bahan atau kelelahan fisik).
Oleh karena itu, tingkatkan kepercayaan diri Anda, terutama sebelum mengisi halaqah. Caranya dengan banyak mengingat-ingat kelebihan dan prestasi Anda, membayangkan kesuksesan yang akan Anda dapatkan, meyakini bahwa Anda lebih baik dari yang Anda kira, dan meyakini bantuan Allah kepada orang-orang yang berdakwah.
Jika di tengah¬tengah penampilan Anda mengisi halaqah muncul perasaan gugup dan minder, buang jauh-jauh pikiran itu. Yakini bahwa hal itu merupakan godaan syetan. Yakini juga bahwa orang yang ada di hadapan Anda pasti memiliki kekurangan. Bahkan kekurangannya mungkin lebih banyak dari yang Anda kira. Kalau perlu, Anda bayangkan mereka dengan hal¬hal yang lucu. Misalnya, dengan memvisualisikan mereka seperti bayi¬bayi yang lucu, anak-anak yang manja, remaja idiot, orang tua cerewet, kakek nenek ompong, dan lain-lain. Dengan membayangkan yang lucu, kegugupan Anda akan sirna. Kepercayaan diri Anda akan meningkat.

6. Belajarlah jadi Pendidik yang merendahkan diri kepada pelajar-pelajarnya

“dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman” (QS. 26 : 215).

Ada satu tips yang dapat dilakukan jika Anda merasa tidak PD (Percaya Diri) membina. Latihlah kepercayaan diri Anda dengan membina halaqah yang derajatnya lebih “rendah”. Misalnya, jika Anda mahasiswa dan belum PD membina mahasiswa, tangani lebih dulu anak-anak SMU. Kalau itu pun belum PD juga, cari pelajar yang lebih rendah lagi, yakni anak-anak SMP. Jika itu pun belum PD, cari pelajar anak-anak SD atau TK. Tentu pada saat menangani anak SD atau TK namanya bukan lagi halaqah, tapi TPA (Taman Pendidikan Al Qur’an). Nah....jika nanti sudah PD menangani pelajar yang derajatnya lebih “rendah”, baru mencoba menangani pelajar yang derajatnya “sama” (misalnya sesama mahasaiswa). Bahkan jika PD sudah prima, Anda bisa menangani pelajar yang derajatnya lebih “tinggi” daripada Anda. Misalnya, jika Anda mahasiswa, Anda berani membina lulusan sarjana atau menangani para eksekutif.
Jadi, latihlah PD Anda secara beransur-ansur, Insya Allah Anda akan menjadi Pendidik yang PD membina. Ingat! Muhammad Ali menjadi petinju besar bukan karena langsung bertanding dengan petinju kaliber dunia, tapi mulai dari menghadapi petinju kelas “kampung”. Karena itu, jika Anda kurang PD membina, carilah lebih dahulu sparring partner yang derajatnya lebih “rendah” dari Anda.

7. Siapkan bahan cadangan

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi…” (QS. 8 : 60).

Ibarat tentera yang akan berperang membawa senjata cadangan, Pendidik juga perlu demikian. Anda sebagi Pendidik perlu menyiapkan bahan cadangan. Mengapa? Kadangkala kondisi halaqah tidak sesuai dengan yang kita bayangkan. Misalnya, Anda berharap semua pelajar hadir tapi ternyata yang hadir hanya segelintir, sehingga Anda merasa sayang jika memberikan bahan tanpa didengar oleh semua pelajar. Atau ketika Anda mengsembang dengan pelajar sebelum acara halaqah dimulai, ternyata ada masalah mendesak yang perlu segera diberikan solusi melalui taujih (pemberian bahan). Atau karena sesuatu hal, waktu Anda menyampaikan bahan menjadi sangat sempit. Nah! Pada saat¬saat seperti itu bahan yang Anda persiapkan mungkin kurang relevan lagi untuk disampaikan, sehingga Anda perlu menyampaikan bahan lain yang lebih cocok dengan perubahan situasi halaqah yang mendadak. Disinilah pentingnya Anda menyiapkan bahan cadangan. Kalau bisa, bahan cadangan yang dipersiapkan lebih dari satu bahan. Sebaiknya juga, bahan cadangan adalah bahan yang singkat, praktis, dan tidak terlalu banyak menggunakan dalil atau data.

8. Simpan stock bahan seperti dokumen berharga

“Begitulah hendaknya seorang akh, ia selalu rapi dalam semua urusannya, di rumah, di tempat kerja dan pejabatnya serta semua urusannya” (Musthafa Masyhur)
Bagaimana agar Anda menjadi Pendidik yang kompeten di mata pelajar? Salah satu caranya adalah mempunyai stock (persediaan) bahan yang banyak, sehingga tidak terkesan Anda “kehabisan” bahan. Dengan stock bahan yang banyak, Anda dapat membina pelajar selama bertahun¬tahun, mungkin malah puluhan tahun (jika perlu).
Biasanya, Pendidik mendapatkan bahan secara estafeta dari struktur dakwah di atasnya. Nah…jika Anda mendapatkannya, simpan bahan dengan baik layaknya dokumen berharga. Kalau perlu simpan di tempat khusus. Sebaiknya, stock bahan disimpan dalam fail-fail sesuai dengan urutan pokok bahasan atau jenjang halaqah, sehingga ketika Anda memerlukannya mudah mencarinya. Jaga agar catatan atau fail bahan Anda tidak rusak dan hilang. Jika ada yang meminjamnya, segera minta kembali.
Selain sebagai persiapan untuk memberikan bahan kepada pelajar, stock bahan juga berguna sebagai bahan referensi untuk “meramu” bahan baru yang lebih sesuai dengan keperluan pelajar.

9. Sabarlah terhadap proses perkembangan pelajar


           
“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami” (QS. 32 : 24).

Sebagai Pendidik, Anda harus mempunyai stock (persedian) sabar yang banyak. Terutama sabar terhadap proses perkembangan pelajar. Sebab jika tidak sabar, Anda akan cepat kecewa, stres, dan uring¬uringan sendiri melihat berbagai polah pelajar yang seringkali tidak sesuai dengan harapan Anda.
Ketika membina, Anda menghadapi manusia yang heterogen pemahamannya terhadap Islam. Ada yang cepat berubah (dan ini yang menggembirakan), tapi ada juga yang lambat. Kepada pelajar yang lambat ini, Pendidik harus sabar menghadapinya. Jangan cepat pesimis dan putus asa. Apalagi “memecatnya” dari halaqah, karena Anda tak tahan dengan polahnya.
Dalam realitinya, Anda akan sering menjumpai pelajar yang terlihat lambat berubah. Terhadap pelajar semacam ini, Anda jangan cepat menyimpulkan bahwa ia tidak prospektif. Justru pelajar semacam ini yang seringkali lebih bertahan lama dalam halaqah dan lebih prospektif untuk dakwah di kemudian hari. Sebaliknya, pelajar yang di awal halaqah terlihat semangat dan cepat berubah, malah seringkali justru cepat juga minggat dari halaqah. Jika pun bertahan, ia lebih banyak “menyumbang” masalah daripada “menyumbang” solusi. Karena itu, sabarlah terhadap proses perkembangan pelajar. Jangan cepat menyimpulkan dan jangan cepat putus asa terhadap pelajar yang terlihat lambat berubah.


10. Beri angka 10 di dahi pelajar

  •  ••                     
“Kamu adalah umat terbaik yag dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah” (QS. 3 : 110)

Apa maksudnya? Apakah maksudnya Anda mencoretkan angka 10 di dahi pelajar dengan spidol? Tentu saja bukan. Maksudnya, Anda selalu membayangkan pelajar dengan pandangan optimis bahwa mereka akan menjadi orang-orang besar kelak. Anda optimis mereka akan menjadi orang-orang sukses di kemudian hari. Anda yakin mereka akan berubah lebih baik lagi. Angka 10 melambangkan optimisme Anda yang besar terhadap mereka.
Sebagai Pendidik Anda harus yakin pelajar lebih banyak kelebihannya daripada kekurangannya. Anda harus optimis mereka akan berhasil dibina. Anda harus yakin mereka bukanlah sembarang orang, tapi calon pemimpin bangsa dan umat. Sikap optimisme ini akan mempengaruhi perilaku Anda ketika membina mereka. Sebab menurut pakar kepemimpinan, jika pemimpin ingin merubah orang mulailah dari perubahan paradigma terhadap orang tersebut. Jika pemimpin memiliki paradigma bahwa orang yang ia bina dapat berubah, maka orang tersebut akan berubah sesuai dengan apa yang ia persepsikan. Sebaliknya, jika seorang pemimpin pesimis anak buahnya akan berubah menjadi lebih baik, maka seperti itulah yang akan terjadi.
Karena itu, beri angka 10 pada dahi pelajar Anda, bukan angka 6. Yakin dan optimislah terhadap perubahan pelajar Anda ke arah yang lebih baik lagi, jangan pesimis dan putus asa. Pandanglah pelajar Anda bukan seperti apa adanya, tapi seperti apa seharusnya.

11. Yakin akan sukses membina

“Kami percaya bahwa tabir yang memisahkan antara kami dan keberhasilan hanyalah keputusasaan” (Hasan Al Banna).

Keberhasilan itu berawal dari pikiran. Jika kita berpikir akan gagal maka kegagalan akan datang di pelupuk mata. Sebaliknya, jika kita berpikir akan sukses maka kesuksesan akan menjelang. Rasulullah saw adalah Pendidik yang yakin akan sukses membina. Ia tidak pernah merasa pesimis membina pelajarnya. Sejarah mencatat Rasulullah saw berhasil mencetak orang-orang terbaik sepanjang masa. Anda bisa bayangkan, bagaimana orang buta seperti Abdullah Ummu Maktum ra, orang yang cacat seperti Abdulah bin Mas’ud ra, dan orang yang dianggap hina, seperti Bilal bin Robbah ra, dapat tumbuh berkembang menjadi orang-orang terbaik di masyarakatnya. Semua itu tak bisa lepas dari keyakinan Nabi, sebagai Pendidik, bahwa ia akan sukses membina pelajarnya.
Karena itu, jangan sepelekan keyakinan akan sukses sebelum Anda sukses membina. Anda perlu menanamkan keyakinan tersebut dengan kuat di hati sanubari Anda. Hilangkan keraguan¬keraguan akan sukses. Semakin Anda yakin, semakin besar peluang kesuksesan Anda. Mengapa? Karena keyakinan, disadari atau tidak, mengubah sikap dan perilaku Anda. Jika Anda yakin akan sukses, maka sikap dan perilaku Anda akan mengarah kepada kesuksesan. Begitu pun sebaliknya.
Jika pikiran kegagalan masuk ke dalam kepala Anda, segera buang jauh-jauh pikiran itu. Anggap itu sebagai godaan syetan yang ingin menggagalkan tekad Anda menjadi Pendidik sukses. Syetan menginginkan agar umat ini tidak terbina dengan langkanya para dai dan Pendidik yang sukses berdakwah.

No comments:

Post a Comment