Saturday

Nasihat Kepada Ayah dan Pendidik oleh Salaf Al Soleh

"Tidak akan bergerak kedua tapak kaki seorang hamba di Hari Kiamat melainkan sesudah ditanya tentang empat perkara ini: Tenting umurnya di mana dia telah menghabiskan, tentang mana mudanya apa yang sudah dia buat, tentang hartanya, dari mana dia memperolehinya dan di mana dia membelanjakannya, tentang ilmu-nya, apa yang sudah dia lakukan dengannya. " (Riwayat At-Termidzi)

Al-Quran dan Hadis-hadis Nabi s.a.w. menggesa ibu-bapa dan para pendidik mengambil berat terhadap pendidikan anak-anak mereka. Mengutamakan pengajaran anak-anak serta pelurusan kebengkokan mereka, Bahkan generasi terdahulu (para ayah dan waris) telah memilih guru-guru yang khusus untuk anak-anak mereka, supaya guru-guru dapat membimbing anak-anak itu dengan kebolehan yang ada pada mereka dalam soal pelajaran, adab susila, dan seumpamanya, dan juga supaya guru-guru itu dapat menunaikan tugasnya menurut cara-para yang baik tentang membangun anak-anak di atas asas aqidah yang lurus, akhlak dan pengajaran Islam.

Berikut adalah senarai cerita dari orang-orang yang terdahulu dan berita-berita tentang usaha gigih para salaf dalam soal mengambil berat terhadap pemeliharaan anak-anak mereka, turut pula mengambil berat terhadap pendidikan dan pengajaran anak-anaknya sendiri, dan tahu bagaimana memilih untuk anak-anak itu para pendidik yang utama untuk mendidik mereka akhlak yang mulia, ilmu pengetahuan yang berguna dan cara hidup yang baik.

• Al-Jahizh telah meriwayatkan, bahwasanya Uqbah bin Abu Sufyan, apabila menyerahkan anaknya kepada seorang pendidik, katanya: Mula-mula sekali, sebelum engkau memperbaiki anakku, hendaklah engkau memperbaiki dirimu sendiri, kerana matanya menumpu kepada matamu. Yang baik padanya ialah apa yang engkau pandang baik, dan yang buruk pula ialah apa yang engkau pandang buruk. Ajarkanlah dia perjalanan para ahli bijaksana, dan akhlak para budiawan, dan ancamlah mereka dengan diriku, dan didiklah mereka tanpa membandingkan diriku, dan jadilah baginya laksana seorang doktor yang tidak tergesa-gesa menentukan sesuatu ubat, sebelum dia tahu penyakitnya, jangan kau bergantung atas keuzuran daripadaku, sebab sesungguhnya aku telah bergantung sepenuhnya kepada kebolehan dan pengalaman yang ada padamu.

• Ibnu Khaldun telah meriwayatkan di dalam Muqaddimah-nya, bahwasanya Harun Ar-Rasyid, apabila menyerahkan anaknya yang bernama Al-Amin kepada pendidiknya, beliau berkata: Wahai Ahmar! Sesungguhnya Amirul Mu'minin telah menyerahkan kepadamu buah hatinya, maka letakkan tanganmu ke atasnya dengan lemah-lembut, dan ketaatanmu kepadanya wajib, letakkanlah diri-mu kepadanya, seperti engkau meletakkan dirimu kepada Amirul Mu'minin. Ajarkanlah dia membaca Al-Quran, dan kenalkanlah dia dengan sejarah, darn pupukkanlah dia dengan syair-syair, penuhkanlah dadanya dengan Hadis-hadis Nabi, tunjukilah dia cara-cara bertutur dan permulaannya, dan jarangkanlah dia dari ketawa melainkan pada waktunya, dan jangan sampai berlalu satu saat pun melainkan engkau asakkanlah dia dengan perkara-perkara yang berfaedah tanpa menyusahkannya, kelak akan mati pula otaknya, dan jangan terlalu beringan-ringan untuk memberinya masa lapang, kelak dia akan merasa sedap dan sentiasa ingin berlapang-lapang masa, dan luruskanlah dia sekadar yang termampu dengan mendekatkan diri kepadanya, dan dengan berlemah-lemhut, tetapi jika dia menolak sikap ini, maka hendaklah engkau mengambil sikap yang keras dan kasar.

• Kerana terlalu mengambil berat sekali terhadap anak-anak oleh para salaf, mereka sentiasa mengadakan perhubungan yang rapat dengan para pendidik anak-anak mereka. Andaikata ada sesuatu yang menghalang mereka dari dapat bertemu dengan anak-anak mereka, mereka berasa dukacita sekali, sebab mereka bimbang kalau-kalau anak-anak mereka tidak dididik menurut cara yang mereka mahu atau anjurkan.

• Ar-Raghib Al-Isfihani telah menyatakan, bahwa Al-Mansur pernah mengutus orang untuk bertanyakan siapa-siapa yang berada dari kaum Bani Umaiyah di dalam penjaranya: Apakah yang amat berat sekali, yang kamu rasakan di dalam penjara ini? Jawab mereka: Dukacita kami kerana kami terhalang untuk mendidik anak-anak kami.

• Abdul Malik bin Marwan pernah menasihatkan pendidik anaknya, katanya: Ajarkanlah mereka kebenaran, sebagaimana engkau mengajar mereka membaca AI-Quran, sentiasa biasakan mereka dengan akhlak yang baik, bicarakan kepada mereka dari syair-syair supaya mereka berani clan bersemangat, biasakan mereka duduk bersama orang-orang yang mulia dan ahli ilmu pengetahuan, dan jauhkanlah mereka dari bercampur dengan orang-orang yang rendah budinya serta khadam-khadam, sebab mereka itulah orang-orang yang paling buruk kelakuannya, hormatilah mereka di hadapan ramai, dan cela mereka secara rahasia, dan pukullah mereka jika mereka berdusta, kerana dusta itu menarik kepada maksiat, dan maksiat pula menarik kepada api neraka

• Berkata Al-Hajjaj kepada pendidik anak-anaknya: Ajar mereka berenang sebelum engkau mengajarnya menulis, sebab mereka boleh mendapatkan, orang yang menulis untuk mereka, tetapi tidak boleh mendapat orang yang akan merenangkan mereka.

• Berpesan seorang pendita kepada pendidik anaknya: Jangan engkau pindahkan dia dari suatu ilmu kepada ilmu yang lain, se-hingga dia benar-benar menguasai ilmu yang pertama dahulu, sebab percampur-adukan ilmu pada pendengaran dan bertimpa-timpanya dalam kemewahan adalah membahayakan fahaman.

• Umar bin Al-Khattab r.a. menulis kepada penduduk Syam, katanya: Ajarkanlah anak-anak kamu berenang, memanah dan me-nunggang kuda!

• Antara wasiat Ibnu Sina dalam soal pendidikan anak-anak, katanya: Hendaklah anak yang belajar di sekolah itu mempunyai teman-teman yang ramai, baik adabnya, senonoh adat clan tertib-nya, sebab anak-anak itu, satu dengan yang lain akan tiru-meniru, ambil-mengambil serta bermesra-mesraan.

• Berkata Hisyam bin Abdul Malik kepada pendidik anaknya yang bernama Sulaiman Al-Kalbi: Sesungguhnya anakku ini adalah cahaya mataku, dan kini aku telah serahkannya kepadamu untuk engkau mengajarinya. Maka hendaklah engkau bertaqwa kepada Allah, dan tunaikan amanat dengan: sempurna. Mula-mula sekali aku wasiatkan engkau supaya membimbingnya dengan kitab Allah. Kemudian lengkapkan dirinya dengan syair-syair yang terbaik sekali, kemudian engkau bawa dia mengelilingi perkampungan-perkampungan Arab, clan pilihlah syair-syair mereka yang terbaik saja, clan jangan lupa mengingatkannya dari hal yang halal dan yang haram, ajarlah dia berpidato dan cara-cara berperang.

Semua ini adalah segelintir dari yang banyak yang menggambarkan kesungguhan orang-orang atasan dan orang-orang umum dalam soal pendidikan armak-anak mereka serta pemilihan pendidik-pendidik yamg utama untuk mengajar me reka, sambil peringatan yang perlu dalam hal kaedah-kaedah pengajaran yang betul, clan prinsip-prinsip pendidikan yang amali lagi sihat, kerana mereka merasa bertanggungjawab terhadap pendidikan anak-anak mereka, dan memikul amanat yang mana mereka akan dikira dan dihisab nanti, kiranya mereka mencuaikan tanggungjawab mereka dart me-lalaikan soal pengajaran dan pendidikan anak-anak mereka.

Andaikata yang bertanggungjawab tentang pendidikan anak-anak itu ialah para ayah, atau ibu-ibu sendiri, ataupun para guru, maka hendaklah mereka mengajar dengan terang clan jelas supaya ternyata batas-batas tanggungjawab mereka clan tahap-tahapnya yang sempurna, agar mereka dapat menjalankan tanggungjawab itu dengan cara yang sempurna clan bermakna.

Sumber: Abdullah Nasih Ulwan, Pendidikan Anak-Anak, Pustaka Nasional Pte Ltd, Singapura

No comments:

Post a Comment