Tuesday

Takut dan Harap

Nasheed - Raihan - Iktiraf









Baru-baru ni seorang Dai berkunjung ke kolej kerana urusan mendaftarkan puteranya melanjutkan pelajaran. Setelah berbincang dengan ahli jawatankuasa orientasi dan penceramah asal, persetujuan diperolehi untuk memberikan slot tazkirah dan motivasi pelajar-pelajar baru kepada beliau. Alhamdulillah, ternyata beliau dapat dan mampu membangkitkan kesedaran baru kepada pelajar-pelajar yang datang dari segenap pelosok tanah air. Selepas sesi tersebut, sambil-sambil kami menikmati hidangan ringan yang disediakan oleh penganjur, beliau mengulas sedikit pembacaan dan tulisan dalam blog beliau yang lama tidak dikemaskini disekitar tajuk takut dan harap.

Memetik beberapa perenggan daripada blog beliau;

Sebenarnya, melakukan amal di dalam kehidupan ini tidaklah begitu sukar, yang sukar dilakukan dan majoriti manusia menyedarinya adalah melakukan amal dengan ikhlas. Amal yang dilakukan hanyasanya kerana Allah SWT semata-mata. Inilah yang dibimbangi dan meresahkan jiwa kerana bimbang amal-amal yang dilakukan dicemari oleh riya’ dan ujub sehingga amal-amal ini tidak diterima Allah SWT. Rugi! Rugi kiranya kita balik kepada Allah SWT dengan amal yang tercemar. Kadangkala pada ketika iman melemah, amal mudah tercemar oleh hajat-hajat lain, selain pahala dan redha Allah SWT.

“Ya Allah! Janganlah Kau biarkan aku melakukan walaupun satu amal, untuk yang selain dari untuk mendapat cinta dan redha-Mu”

Imam Qurtubi telah menulis, “Maka fikirkanlah dirimu wahai saudaraku! Ketika kamu diseret di atas tanah, dan pandangan orang-orang tertuju kepadamu, apalagi orang-orang yang sangat mempercayaimu ketika di dunia, mereka akan melihatmu ketika kamu mendapat balasan kesalahanmu, dan ketika kamu membaca lembaran amal-amalmu, kerana semua manusia akan mengetahui seluruh apa yang pernah kamu lakukan dan apa yang pernah kamu sembunyikan dari mereka. Tidak akan ada sesuatupun dari perbuatan, sama ada yang besar hingga yang sekecil-kecilnya yang boleh kamu tutupi dan rahsiakan.

Semuanya akan kamu baca dengan lidah yang terketar-ketar dan hati yang hancur. Hingga para malaikat berseru kepadamu: ‘Celakalah kamu wahai hamba! Apakah dengan segala keburukan ini kamu akan menghadap Allah SWT berapa banyak dosa yang telah kamu lupakan lalu kami mengingatkannya lagi ketika membaca lembaranmu?’ Lalu berapa keburukan yang kamu sembunyikan, tetapi dibuka oleh lembaran itu? Lalu berapa amal soleh yang kamu kerjakan yang kamu mengira telah mengikhlaskannya kerana Allah SWT dan kamu mengira amal itu akan diterima? Ternyata kamu tidak ikhlas, ternyata tidak diterima. ‘Kerana lembaran amal itu akan mengatakan bahawa orang itu adalah orang yang riya’ dan munafik, hingga terputuslah pahala amal-amalnya’.

Kemudian ia akan mulai membaca catatan kebaikannya, dengan mengira bahawa ia akan selamat, tetapi ia sampai pada akhir kitab tersebut ia menemukan bahawa semua kebaikannya ditolak kerana tidak ikhlas dalam amalnya. Sehingga ia menjadi pucat, wajahnya menjadi hitam, kesedihan menyelimutinya, ketakutan dan merasa putus asa dari kebaikan. Kemudian ia mengulangi bacaannya kembali, membaca kebaikannya yang ditolak oleh Allah SWT, tetapi ia tidak menemui ada kebaikan yang bertambah kecuali hanya kesedihan dan penyesalan, sedangkan wajahnya semakin bertambah hitam.

Sebahagian lagi ada yang mendapat keburukannya pada akhir catatannya, kemudian keburukan itu dilipatgandakan azabnya, pada hal mereka pada awal hidupnya merupakan orang-orang yang baik, kemudian mereka berubah, mereka mula mengerjakan perbuatan keji, akhirnya mereka menjadi hina kerana Allah SWT memandang mereka dengan hina. Padahal telah ada yang menasihati mereka: ‘Wahai si fulan bertaubatlah kepada Allah SWT!’”

Teringat saya kepada hadis ini;
Dari Abu Hurairah, Rasulullah sallAllahu 'alihi wasallam bersabda:

...إِنَّ اللهَ تَعالَى طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّباً...


...Sesungguhnya Allah Ta'ala itu baik, tidak menerima sesuatu, kecuali yang baik...(HR. Muslim, no. 1015; At Tirmidzi, no. 2989 dan Ahmad, II/328)


Rasulullah –sallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam bersabda: “Allah tidak akan menerima amalan kecuali yang ikhlas dan hanya mengharapkan wajahNya.” (HR. An-Nasa’i dengan sanad hasan).

Seorang hamba tidak akan bisa selamat dari godaan syaitan kecuali orang-orang yang ikhlas saja, sebagaima firman Allah –subahanahu wa ta’ala yang mengkisahkan tentang iblis: “Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka.” (QS. Shaad: 82-83).

Orang yang ikhlas adalah orang yang beramal karena Allah –subahanahu wa ta’ala semata dan mengharapkan kebahagiaan abadi di kampung akhirat, hatinya bersih dari niat-niat lain yang mengotorinya.

Orang yang ikhlas adalah orang yang menyembunyikan kebaikannya sebagaimana ia menyembunyikan keburukannya. Orang yang tidak ikhlas adalah orang yang melakukan amalan akhirat untuk mencari dunia seperti, ingin mendapatkan harta, kedudukan, jabatan, pangkat, kehormatan, pujian, riya’ dll.

Orang yang tidak ikhlas adalah orang yang rugi karena hari kiamat kelak mereka tidak mendapatkan apa-apa dari amalan mereka selama di dunia, bahkan Allah –subahanahu wa ta’ala murka kepada mereka dan memberikan hukuman yang setimpal, “Dan (jelaslah) bagi mereka akibat buruk dari apa yang telah mereka perbuat dan mereka diliputi oleh pembalasan yang mereka dahulu selalu memperolok-olokkannya.” (QS. Az-Zumar: 48) . “Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (QS. Al-Furqaan:23)

Rasulullah SAW bahkan pernah menyebut riya itu seperti seekor semut hitam yang ada di dalam gelap malam. Yusuf bin Al- Husain berkata. "Sesuatu yang paling mulia di dunia adalah ikhlas. Berapa banyak aku mengenyahkan riya' dari hatiku, tapi seakan-akan ia tumbuh dalam rupa yang lain." Pengarang Manazilus-Sa'irin berkata, "Ikhlas artinya membersihkan amal dari segala campuran." Dengan kata lain, amal itu tidak dicampuri sesuatu yang mengotorinya karena kehendak-kehendak nafsu, entah karena ingin memperlihatkan amal itu tampak indah di mata orang-orang, mencari pujian, tidak ingin dicela, mencari pengagungan dan sanjungan, karena ingin mendapatkan harta dari mereka atau pun alasan-alasan lain yang berupa cela dan cacat, yang secara keseluruhan dapat disatukan sebagai kehendak untuk selain Allah, apa pun dan siapa pun."

Sedangkan Ibnu Alwy memberikan batasan pengertian seorang Mukhlis (orang
ikhlas) yaitu apabila ia melakukan ataupun meninggalkan sesuatu perbuatan,
baik dalam sunyi ataupun banyak orang tetap menyandarkan tujuannya hanya
kepada Allah, tanpa mencampuradukkan dengan maksud lain, misalnya karena
hawa nafsu atau keduniaan (harta, tahta, wanita). Dan jika dia berniat
disamping Allah juga karena manusia, maka dia termasuk Riya yaitu orang
yang berbuat riya dan amalnya tidak akan diterima. Apabila dia beramal
karena manusia semata, maka dia telah terjerumus ke dalam kebinasaan dan
riyanya telah mencapai tingkat Munafiq. Na'udzubillahi min dzalik.

Maka sifat keikhlasan patut dipelihara dari sifat-sifat yang mengotorinya
seperti riya., ujub (merasa bangga akan perbuatannya), takabbur bahkan
syirik sekecil apapun.

Rasulullah SAW mengingatkan ummatnya mengenai syirik ini. Sabdanya:
"Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan menimpa kamu sekalian ialah
syirik yang paling kecil." Para shahabat bertanya; "Apakah yang disebut
syirik yang paling kecil itu ?" Beliau menjawab; "Riya", Allah berfirman
pada Hari Kiamat ketika memberikan balasan terhadap manusia menurut
perbuatannya: "Pergilah kamu sekalian kepada sesuatu yang dijadikan tempat
memperlihatkan amal kamu di dunia, maka tunggulah apakah kamu menerima
balasan dari mereka itu."(HR Ahmad)

Sebagai upaya membina terwujudnya keikhlasan yang mantap dalam hati setiap
mukmin, sudah selayaknya kita memperhatikan beberapa hal yang dapat
memelihara ikhlas dari penyakit-penyakit hati yang selalu mengintai kita,
di antaranya:

Pertama, dengan meyakini bahwa setiap amal yang kita perbuat, baik lahir
maupun batin, sekecil apapun, selalu dilihat dan didengar Allah SWT dan
kelak Dia memperlihatkan seluruh gerakan dan bisikan hati tanpa ada yang
terlewatkan. Kemudian kita menerima balasan atas perbuatan-perbuatan tadi.

Firman Allah dalam S Al-Zalzalah 7-8:
" Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia
akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan
sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula" .

Dan yang sering tidak kita sadari adalah penyimpangan niat dari ikhlas
lillahi Ta'ala menjadi riya. Dalam hadis Qudsi dikemukakan: "Kelak pada
Hari Kiamat akan didatangkan beberapa buku catatan amal yang telah
disegel. Lalu dihadapkan kepada Allah SWT tetapi kemudian Dia berfirman:
"Buanglah semua buku-buku ini !" Malaikatpun berkata: "Demi kekuasaan-Mu,
kami tidak melihat didalamnya selain kebaikannya saja." Lalu Allah
berfirman; "Sesungguhnya amalan yang memenuhinya dilakukan bukan karena
Aku, dan Aku tidak menerima kecuali apa yang dilakukan karena mencari
keridlaan-Ku."

Kedua, memahami makna dan hakikat ikhlas serta meluruskan niat dalam
beribadah hanya kepada Allah dan mencari keridlaan-Nya semata, setelah
yakin perbuatan kita sejalan dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Maka
ketika niat kita menyimpang dari keikhlasan, kembalikanlah kepada keimanan
dan ketaqwaan serta segeralah mensucikan diri dengan bertaubat dan
meluruskan kembali niat baik tadi. Firman Allah: "Kecuali orang-orang yang
bertaubat dan memperbaiki amal mereka serta berpegang teguh kepada agama
Allah dan tulus ikhlas mengerjakan agama mereka karena Allah, maka mereka
itu adalah bersama orang yang beriman dan kelak Allah memberikan kepada
orang yang beriman pahala yang besar."

Ketiga, Berusaha membersihkan hati dari sifat yang mengotorinya seperti
riya, nifaq atau bentuk syirik lainnya sekecil apapun. Allah berfirman:
"Barang siapa yang berharap menemui Rabb-nya, hendaklah ia mengerjakan
perbuatan baik dan janganlah mempersekutukan dalam beribadah kepada
Rabb-nya dengan sesuatu apapun.
"Kehati-hatian" ini sebagai cerminan sikap ikhlas kita, meskipun tidak
jarang kita khilaf dan menyimpang dari niat semula. Namun, dengan memahami
seluk beluk penyakit hati ini, diharapkan kita dapat mengambil sikap yang
benar.

Fudhail Bin `Iyadh mengatakan: "Meninggalkan amal karena manusia adalah
riya, sedang beramal karena manusia adalah syirik. Dan ikhlas adalah
menyelamatkanmu dari kedua penyakit tersebut."

Keempat, Memohon petunjuk kepada Allah agar menetapkan hati kita dalam
ikhlas. Karena hanya Dia-lah yang berkuasa menurunkan hidayah dan
menyelamatkan kita dari godaan syetan yang selalu menghembuskan kejahatan
yang dapat membinasakan manusia. Tidak sedikit manusia yang terjerumus
pada riya dan syirik yang tersembunyi, sebagaimana diperi-ngatkan dalam
Hadits Nabi SAW, sabdanya: "Barangsiapa yang shalat dengan riya,
sesungguhnya ia telah melakukan syirik, dan barang siapa yang shaum dengan
riya, sesungguhnya ia telah melakukan syirik, dan demikian juga,
barangsiapa yang bersedekah dengan riya sesungguhnya ia telah melakukan
syirik, karena Allah `azza wajalla berfirman (dalam Hadits Qudsi):
"Aku adalah penentu yang terbaik bagi orang yang telah menyekutukan
sesuatu de-ngan-Ku. Amal perbuatannya sedikit maupun banyak bagi yang
disekutukannya sedang Aku sama sekali tidak perlu padanya."

Maka, sudah menjadi kewajiban kita sebagai pribadi muslim untuk terus
memelihara keikhlasan dalam menjalankan ibadah kepada Allah SWT dan
menjauhkan diri dari sifat-sifat yang mengotorinya. Hanya kepada-Nyalah
kita berserah diri dan memohon petunjuk-Nya.

Ya Muqollib Al-Qulub, Tsabbit Quluubanaa `ala diiniKa, Ashbahnaa `ala
fitratil Islam Wa-kalimatil Ikhlash Wa `Ala dini Nabiyina Muhammad
Sallallau'alaihi wasallam, wa'alaa millati abiinaa Ibrahiima haniifaa,
wamaa kaanaa minal musyrikiin. "

(Ya Allah yang berkuasa membolak-balik-kan hati manusia, tetapkanlah hati
kami dalam agama. Jadikanlah kami dalam fitrah Islam dan teguhkanlah kami
dalam prinsip keikhlasan, berpegang teguh kepada agama Nabi kami, Muhammad
SAW, juga millah Ibrahim dengan setulus hati. Dan Ibrahim itu bukan dari
golongan orang musyrik ).

Dikalangan sahabat-sahabat nabi, Abu Bakar Al-Sidiq adalah seorang yang mulia dan keimanannya yang kuat dan paling taqwa disisi Allah serta telah dijamin syurga oleh Allah melalui wahyu yang disapaikan kepqda Muhammad. Tapi dia berendah diri di depan Allah. "Alangkah baiknya kalau aku dijadikan sebatang pokok yang kemudian ditebang dan dijadikan kayu api. Alangkah baiknya kalau aku dijadikan burung yang tidak ada hari penghisabab dan pembalasan. Alangkah baiknya jika aku tidak dilahirkan oleh ibu ku". Bukan bersunggut, tapi merendah diiri serta mempunyai perasaan takut dan harap kepada Allah. Takut kemurkaan Allah yang akan mencampakkannya ke neraka, harap rahmat Allah untuk mengampunkan dosa dan dimasukkan ke dalam syurga. Tapi harganya ialah ketakwaan, kepatuhan kepda perintah-perintahNya. Meninggalkan yang dilarang dan mengerjakan yang disuruh.

Rujukan:
1)Tinta-Tarbawi
2)www.pks-jaksel.id
3)www.pk-sejahtera.us

No comments:

Post a Comment