Saturday

Sajak untuk Ibu dan Ayah

Mata Ayah ~ Usman Awang

Kujabat mesra tangan ayah
Urat-urat daging-daging tua keras terasa
Mataku tersenyum, matanya menyapa
Anak yang pulang disambut mesra.

Tapi matanya, mata yang menatapku
Kolam-kolam derita dan pudar bulan pagi
Garis-garis putih lesu melingkungi hitam-suram
Suatu kelesauan yang tak pernah dipancarkan dulu.

Kelibat senyum matanya masih jua ramah
Akan menutup padaku kelesuan hidup sendiri
Bagai dalam suratnya dengan kata-kata siang
Memintaku pulang menikmati beras baru.

Anak yang pulang di sisi ayahnya maka akulah
merasakan kepedihan yang tercermin di mata
Meski kain pelekatnya bersih dalam kesegaran wuduk
Dan ia tidak pernah merasa, sebab derita itu adalah dia.

~Usman Awang


Ibuku ~ Usman Awang

IBUKU mempunyai seribu mimpi
Yang dipikulnya tiap hari
Sambil menimangku ia pun menyanyi:
Timang tinggi-tinggi,
Dapur tak berasap,
Bila besar nanti,
Jangan masuk lokap.

Ibuku tidak mengenal buku dan sekolah
Tiap pagi terbongkok-bongkok di lumpur sawah
Menggaru betisnya yang dikerumuni lintah.
Hatinya selalu teringat
Suaminya yang mati melarat
Setelah dikerumuni lintah darat

Ibuku tangannya kasar berbelulang
Mengangkat bata-bata bangunan
Wajahnya dibedaki debu berterbangan.
Ibu tidak pernah mengenal supermarket
Tinggal di bilik sempit
Upahnya buruhnya sangat sedikit

Ibuku tidak punya TV
Tidak berpeluang pula menontonnya
Tak pernah mengikuti laporan parlimen
Atau ceramah bagaimana menambah jumlah penduduk
Tidak pula tahu adanya forum kemiskinan
Atau pertunjukan masak-masakan
Dengan resepi yang sangat menakjubkan

Ibuku setiap pagi berulang ke kilang
Bekerja dengan tekun hingga ke malam
Mikroskop itu menusuk matanya dengan kejam
kaburlah mata ibu diselaputi logam

Ibuku tidak tahu tentang hak asasi
Apalagi tentang seni dan puisi.
Jika ditanya makna melabur
Nama-nama saham yang menjanjikan makmur
Atau tentang dasar pandang ke timur,
Ibu tersenyum menunjukkan mangkuk bubur
Yang melimpah kanji beras hancur

O ibuku sayang
Di negerimu kau menumpang.
Sesekali kudengar ibu menyanyi
Pantun tradisi caranya sendiri:
Siakap senohong,
Gelama ikan duri,
Bercakap bohong,
Tak boleh jadi menteri

Usman Awang

Dipetik dari Puisi-puisi pilihan Usman Awang)

Sumber: http://penyair.wordpress.com/category/usman-awang

No comments:

Post a Comment