Sunday

Dorongan Ibadah dan Berdoa

Berlaku perbincangan antara dua sahabat dalam sebuah program PESAT (Pembangunan Sahsiah Terpuji) di KTD kira-kira setahun lalu yang sempat saya rakamkan.

Perbicangan bermula apabila Mentor mereka membuka sesi perbincangan dalam PESAT. Firdaus memulakan perbincangan dengan memberi cadangan supaya sahabat-sahabat dalam kumpulan PESAT mempertingkatkan ibadah dan memperbanyakkan doa kerana peperiksaan akhir semester kedua akan menjelang beberapa minggu lagi. Salahuddin pula mengajak supaya sahabat-sahabatnya memperbetulkan niat apabila mempertingkatkan ibadah dan memperbanyakkan doa supaya dorongan mempertingkat ibadah itu dibuat di atas landasan yang betul.

Mulanya Mentor mereka hanya mengambil sikap berdiam diri kerana ingin menggalakkan suasana perbincangan dan percambahan fikiran dalam rangka membentuk dan meningkatkan keyakinan diri serta kebolehan menyata dan mempertahankan pandangan berasaskan dalil dan fakta. Oleh kerana kedua-duanya ada hujah yang bernas maka mentor berperanan untuk kembalikan kedua-dua sahabat tersebut kepada landasan kebenaran. Di mana Mentor mereka mengemukakan nas-nas daripada Al Quran dan Al Hadis


Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran (TQS al-Baqarah [2]: 186).

Seorang Muslim yang benar, pasti tidak akan malas berdoa. Sebab, doa adalah ibadah (QS Ghafir [40]: 60). Bahkan dalam Hadits al-Tirmidzi disebut sebagai inti ibadah; al-du'â' mukh al-'ibâdah (doa adalah inti ibadah). Tak hanya itu, Allah juga menjanjikan akan mengabulkan doa yang dipanjatkan hamba-Nya. Tentu saja, untuk itu ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi. Penjelasan tentang hal tersebut dapat dijumpai dalam ayat ini.

Dia mendengar doa mereka dan melihat ketundukan mereka. Imam al-Qurthubi juga memak-nainya bahwa Dia memberikan pahala bagi ketaatan dan mengabulkan orang yang berdoa. Juga, mengetahui apa yang dikerjakan hamba-Nya, seperti puasa, shalat, dll. Pendapat senada dikemukanan al-Zamakhsyari yang menyatakan bahwa kata qarîb merupakan tamtsîl (perumpamaan) untuk menunjukkan kemudahan dikabulkannya doa. Menurut Fakhruddin al-Razi, hal ini juga ditegaskan dalam firman Allah SWT: Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan (TQS al-Hadid [57]: 4). Juga firman Allah SWT: Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya (TQS Qaf [50]: 11).

Bahwa manusia tidak perlu khawatir doanya sia-sia dan tidak terdengar oleh-Nya. Sebab, Allah SWT bukan hanya dekat, namun juga akan mengabulkan doa yang dipanjatkan hamba-Nya. Hal ini juga ditegaskan dalam firman Allah SWT: Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu (TQS Ghafir [40]: 60).

Ada tiga jenis terkabulnya doa. Rasulullah bersabda: Tak seorang Muslim pun yang berdoa kepada Allah dengan suatu doa yang di dalamnya tidak dosa dan memutuskan silaturahmi, kecuali Allah akan memberinya salah satu dari tiga perkara, yaitu bisa jadi Allah akan mempercepat terkabulnya doa itu saat di dunia; atau Allah akan menyimpan terkabulnya doa di akhirat kelak, dan bisa jadi Allah akan memalingkan keburukan darinya sesuai dengan kadar doanya. (HR. Ahmad, al-Bukhâri dalam al-Adab al-Mufrad).

Ibnu Jarir al-Thabari, memaknai frase ini dengan fa'lyastajîbû lî bi al-thâ'ah (hendaklah mereka memenuhi-Ku dengan ketaatan). Kesimpulan yang sama juga dikemukakan oleh al-Samarqandi dalam tafsirnya. Sedang-kan al-Zamakhsyari, al-Nasafi, al-Khazin, dan al-Baidhawi menafsirkan frase dengan lebih luas. Menurut mereka, frase ini berarti: fa'lyastajîbû lî (hendaklah mereka memenuhi-Ku) ketika Aku memanggil mereka untuk beriman dan taat; sebagaimana Aku juga telah mengabulkan permintaan mereka kepada-Ku untuk memenuhi kebutuhan mereka. Dengan demikian, hamba diperintahkan untuk terikat dengan syariah; menjalankan semua perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya.

Jika seorang hamba mengharapkan doanya dikabulkan Allah SWT, sudah semestinya dia pun harus memenuhi perintah-Nya, baik dalam aspek aqidah (keimanan) maupun dalam aspek syariah (hukum). Keterkaitan itu juga dijelaskan dalam hadits riwayat al-Bukhari di atas. Bahwa doa yang dikabulkan adalah doa yan tidak ada di dalamnya maksiat dan memutuskan silaturrahim. Dalam hadits al-Tirmidzi dan Ahmad dari Abu Hurairah jika diceritakan seseorang yang tidak dikabulkan doanya. Rasulullah menyebutkan: Seorang laki-laki yang telah lama melakukan perjalanan, rambutnya kusut dan berdebu, ia mengangkat kedua tangannya ke langit seraya memohon: "Ya Tuhanku, ya Tuhanku," padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya juga haram dan sumber makanannya juga dari yang haram maka bagaimana mungkin dikabulkan doanya."

Doa adalah ibadah ruhiyah yang dapat berfungsi sebagai sarana intraksi antara seorang hamba dan penciptanya.Sabda Rasulullah ,“Doa adalah ibadah.” Agar doa dikabulkan oleh Allah SWT ada syatat-syarat uang harus dipenuhi.

Pertama , ikhlas dalam berdoa.

Kedua, tidak boleh tergesa-gesa dalam berdoa.
Rasulullah bersabda, “Doa seorang hamba masih akan tetap dikabulkan selama tidak berdoa dengan tujuan dosa atau memutus silaturahim dan selama tidak isti’jal.” Seorang sahabat bertanya , “Wahai Rasulullah , apa itu isti’jal?” Beliau menjawab, “(Yaitu seseorang) mengatakan ‘Saya sudah berdoa tetapi belum dikabulkan’ , lau ia merasa rugi di saat itu dan ia ringggalkan doanya.” ( HR Muslim, Tirmidzi, dan Abu Daud )

Ketiga , berdoa untuk kebaikan .

Keempat, berdoa harus dengan kehadiran hati.
Sabda Rasulullah, “Jika kalian berdoa , memintalah kepada Allah ta’ala. Mintalah dengan disertai keyakinan bahwa permintaan kalian akan dipenuhi (dikabulkan), karena sesungguhnya Allah ta’ala tiada mengabulkan doa hamba yang lalai” (HR Ahmad)

Kelima , menjaga makanan, minuman , dan pakaian yang halal dan baik (thayyib) Hal ini termasuk syarat terkabulnya doa.

Keenam, membaca shalawat Nabi.
Hal ini berdasarkan sabda beliau sendiri, “Setiap doa tertahan hingga diucapkannya shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.” (Hadits shahih dari Al-ami’us Shaghir : 4399)

Ketujuh, seorang hamba harus selalu berusaha untuk menjalankan apa yang diperintahkan oleh agama dan menjauhi semua larangan-NYa. Seperti firman Allah yang sudah tercantum di awal tulisan ini,
“dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS Al Baqarah :186 ).

No comments:

Post a Comment