Tuesday

Kisah Cinta Pemuda Hebat - Hasan Al Banna

Perkara utama yang dilakukan Imam Hasan Al Banna dalam merancang dan mendidik anak-anak yang akan menjadi keturunannya ialah dengan memulakan seawal proses pemilihan gadis  yang menjadi kekasihnya. Ustaz Mahmud Abdul Halim berkisah tentang pernikahan Al Banna: “Di antara penduduk Ismailiyah yang cepat menyambut dakwah yang disampaikan Al Banna adalah sebuah keluarga terhormat yang disebut keluarga As Shauli. Mereka umumnya para pedagang kelas menengah dan mempunyai sentimen agama yang baik sehingga anak-anaknya terbina dalam lingkar agama yang baik. Ibu Al Banna suatu ketika berkunjung ke rumah keluarga ini. Saat itu ia mendengar alunan suara pembacaan Al Qur‟an yang baik sekali. Ibu Al Banna bertanya, “Suara siapa itu?” Pemilik rumah mengatakan, bahwa itu adalah suara fulanah. Ketika Ibu Al Banna pulang ke rumah, ia pun memberitakan apa yang terjadi di rumah keluarga tadi. Saat itulah Al Banna mulai terbetik bahwa wanita seperti itulah yang layak menjadi kekasih dalam hidupnya. Akhirnya Al Banna menikahi wanita itu yang sekaligus menjadi ibu bagi anak-anaknya. Dialah isteri yang mendampinginya saat lapang dan sempit, sulit dan senang. Dialah penolong yang baik dalam dakwahnya, sampai akhirnya Al Banna menyongsong kematian menemui Rabb-nya sebagai seorang yang dizalimi.



Diskusi Calon Mertua dan Calon Menantu

Anak Al Banna, yang bernama Tsana, menyebutkan sejumlah sikap yang diinginkan neneknya (ibunda Al Banna) dalam memilihkan isteri untuk Al Banna. Dikatakannya, “Nenekku rahimahullah pergi ke sejumlah rumah dari tokoh-tokoh Ismailiyah. Ketika itu nenek simpati dengan ibuku untuk dijodohkan dengan ayahku, karena nenek melihat meskipun keadaan keluarga ibuku sangat sederhana tapi mereka melakukan sendiri keperluannya bahkan mereka juga memasak untuk para pekerja yang ada. Nenek lalu merasakan bahawa rumah keluarga ibuku adalah rumah orang yang dermawan dan baik hati. Meskipun belum ada kesempatan untuk belajar, tetapi kakekku mendatangkan seorang syaikh yang membacakan Al Qur‟an setiap hari di rumah. Lalu suatu ketika, setelah zuhur, syaikh mengaji ini mengajarkan Al Qur‟an untuk penghuni rumah yang perempuan dan mengajarkan fiqh. Karena itulah ibuku bisa dikatakan orang yang cukup pandai tentang masalah fiqih. Orang tuaku telah memilihkan isteri yang baik dari tempat yang baik.....”

Selanjutnya Tsana juga bertutur tentang kecintaan datuknya kepada ibundanya dan bagaimana perhatian yang diberikan kepada kasih sayangnya dengan ayahnya  (Hasan Al Banna). Tsana mengatakan: ”Datuk dari ibuku sangat menyukai ayahku. Ia kerap berdiskusi dalam berbagai masalah sampai-sampai ketika ibuku ada yang ingin meminangnya selain ayahku ketika itu, ia datang kepada datukku dan memintanya untuk membawa keluar puterinya menonton filem di  panggung wayang, kakekku bertanya kepada ayahku tentang hukumnya menonton film di panngung wayang. Ayahku menerangkan bahwa itu haram. Setelah datuk mengetahui orang tersebut meminta sesuatu yang dilarang agama maka datuk meminta orang itu pergi dan mengatakan “Aku tidak punya puteri untuk dinikahkan olehmu”

“Ya Ummu Wafa, Istana Kita menanti di Surga”

Keadaan keluarga jelas sangat menjamin perkembangan jiwa anak secara baik. Kondisi keluarga yang penuh kasih sayang, penuh perhatian dan kepedulian akan menyebabkan anggota keluarga saling hormat menghormati dan saling menghargai. Di antara faktor penting untuk melakukan pemeliharaan yang benar adalah, adanya lingkungan yang mendukung untuk tujuan pendidikan itu sendiri. Lingkungan akan membantu anak-anak lebih mudah memiliki perilaku yang baik. Perilaku Imam Hasan Al Banna di rumah, interaksinya dengan istrinya, hubungannya dengan anak-anaknya, itu semua mewakili lingkungan yang baik dan subur untuk menghidupkan generasi yang shalih. QS Al A‟raf : 58 “Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.”

Tsana, puteri Al Banna, juga mengatakan, “Subhanallah, setelah aku berkeluarga, maka ayahkulah yang menjadi contoh sangat baik dalam hal pengorbanan. Karenanya aku sangat yakin sekali dengan dakwah yang disampaikan ayah. Ayah tidak perlu banyak mengatakan apapun, tapi kecintaanku kepada dakwahnya begitu kuat sampai setelah ayah wafat, para Ikhwan yang dibebaskan dari penjara datang kepada keluarga kami mengucapkan salam. Umumnya mereka semua datang kepada kami dengan selalu membawa makanan. Bahkan meskipun makanan itu berupa makanan yang belum jadi seperti daging mentah, dan itu sangat membahagiakan ibu.”

Tsana melanjutkan: “Ketika menginjakkan kaki ke Kairo, mereka menyewa sebuah pejabat untuk digunakan sebagai ibu pejabat. Ketika itu, Ibu mengambil hampir semua perabot rumah untuk digunakan di ibu pejabat. Ketika ayah membangun sekretariat Ikhwanul Muslimun, ibu telah meminta ayah menginfaqkan sebagian besar perabot rumah agar sekretariat menjadi lebih hidup. Apabila ayah mengangkut karpet, langsir (curtain), meja-meja dan perabot-perabot lain rumah ke sekretriat, ia telah menggembirakan ibu. Di rumah kami sendiri, tak ada ruang kecuali sedikit sekali, termasuk sajadah dan langsir yang sebenarnya dibuat oleh Ibu sendiri. Kami hanya menggunakan sedikit langsir dan untuk menutupi kamar, kami menggunakan apa saja bahan yang bisa digunakan. Dengan pengorbanan itu, ibu tampak tidak merasakan apa-apa dan sepertinya ia tidak memberikan apapun untuk dakwah ini dari perabot rumahnya.


Kepercayaan yang Sangat Besar

Tsana mengatakan : “Kepercayaan ibu kepada ayah besar sekali. Para akhwat datang dan duduk bersama ayah terkadang membicangkan banyak masalah dakwah tentu saja secara terbuka. Tapi ibu tidak pernah merasakan kesempitan dengan hal itu dan tidak bertanya apa yang dilakukan para akhwat itu, sebagaimana dilakukan oleh umumnya isteri. Kepercayaan kepada ayah sangat besar dan sukar digambarkan. Sampai ketika rumah kami termasuk ke dalam peta rumah yang akan dihancurkan ibuku meminta ayah untuk membelikan rumah kecil untuk kami. Tapi ketika itu ayah mengatakan dengan keimanan mendalam: “Wahai Ummu Wafa, istana kita menanti di surga. Allah takkan meyia-nyiakan kita di dunia.” Perkataan itu meresap dalam hati ibuku dengan penuh cinta dan sikap lapang. Ibu tidak marah dan tidak kecewa seperti banyak dilakukan para istri saat ini. Selalu saja ayah memanggil ibu dengan ungkapan, wahai Ummu Wafa. Dan ibu memanggil ayah dengan panggilan, wahai Ustaz Hasan. Itu karena adanya rasa saling menghormati di antara mereka.

Anak-Anak Hasan Al Banna

Imam Hasan Al Banna rahimahullah dikaruniai enam orang anak, terdiri dari satu orang anak laki-laki dan lima orang anak perempuan. Urutannya seperti ini:
a. Wafa : Adalah anak perempuannya yang paling besar, sekaligus istri dari seorang dai terkenal yakni Sa‟ad ramadhan rahimahullah. Saat Al Banna wafat, ia sudah berusia 17 tahun.
b. Ahmad Saiful Islam : Seorang advokat sekaligus sekjen Aliansi Advokat Mesir dan mantan anggota parlemen Mesir. Dilahirkan tanggal 22 November 1934. Berhasil memperoleh gelar sarjana di bidang HAM tahun 1956, dan Darul Ulum 1957. Usianya baru 14 tahun, dua bulan, dua puluh hari saat Al Banna wafat.
c. Dr. Tsana : Dosen Urusan Pengaturan Rumah Tangga, mengajar di sejumlah universitas di Saudi Arabia, Ia masih 11 tahun saat Al Banna meninggal.
d. Ir. Roja‟ : Ketika Al Banna wafat, usianya sekitar lima setengah tahun.
e. Dr. Halah : Dosen kedokteran anak di Universitas Al Azhar. Usianya baru dua tahun lebih saat Al Banna meninggal.
f. Dr. Istisyhad : Dosen Ekonomi Islam. Ia masih berupa janin di perut ibunya saat Al Banna menghembuskan nafas terakhirnya.

Sumber:
Cinta di Rumah Hasan al Banna, Muhammad Lili Nur Aulia.

No comments:

Post a Comment